SOMBONG atau takabur (takabbur) adalah sifat hati yang terkeji (madzmumi) dan merupakan satu daripada penyakit hati yang membawa akibat kebinasaan diri. Pengertian tentang takabur dapat difahami dari maksud beberapa hadist yang berikut :
1. Rasulullah bersabda, "Dianggap sebagai takabur itu ialah menolak apa yang benar dan mengaggap hina kepada orang lain". (HR. Muslim).
2. Bersabda Rasulullah S.A.W kepada sahabatnya, Abu Dzar : "Takabur itu meninggalkan kebenaran dan engkau mengambil selain kebenaran. Engkau melihat orang lain dengan pandangan bahwa kehormatannya tidak sama dengan kehormatanmu, darahnya tidak sama dengan darahmu".
3. Rasulullah S.A.W bertanya kepada sekumpulan Sahabat, "Tahukah kamu, orang gila yang sebenar-benarnya?" Para Sahabat menjawab, "Tidak tahu, ya Rasulullah". Lalu Rasulullah menjelaskan, "Orang gila ialah orang yang berjalan dengan takabur, memandang rendah kepada orang lain, membusungkan dada, mengharapkan syurga sambil membuat maksiat dan kejahatannya membuat orang tidak aman dan kebaikanya tidak pernah diharapkan. Itulah orang gila yang sebenarnya".
Berdasarkan kisah di dalam al-Qur'an, makhluk yang pertama yang diserang dan menjadi mangsa penyakit takabur ialah Iblis (la'natullah). Walaupun diperintah oleh Allah SWT, Iblis enggan menghormati Adam a. s (manusia dan nabi Allah yang pertama) karena dia menganggap dirinya lebih mulia daripada Adam. Katanya, "Aku lebih baik daripadanya (Adam). Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan daripada tanah" (QS 7:12).
Iblis lalu dilaknat oleh Allah SWT karena sifat takaburnya itu. Sekurang-kurangnya dua akibat kecelakaan yang menimpa Iblis karena ketakaburnya :
1. Ia dimasukkan ke dalam golongan kafir. Allah Taala berfirman : Ia (Iblis) enggan dan menyombong diri (takabbur) dan ia termasuk golongan yang kafir (QS 2:34).
2. Ia dimasukkan ke dalam golongan orang yang terhina dan tidak layak tinggal di syurga. Allah berfirman : Turunlah engkau dari syurga itu karena tidak patut (tidak layak) bagimu menyombongkan diri di dalamnya, maka keluarlah. Sesungguhnya engkau termasuk orang-orang yang hina. (QS 7:13).
Sifat takabur itu dapat dikenali dari tutur kata dan tingkah laku bersumber dari lintasan hati yang mengandung rasa tinggi atau besar diri di samping merendah-kan mertabat orang lain atau menolak kebenaran.
Mengikut Abu Yazid: "Seorang hamba itu selama masih mempunyai sangkaan, bahwa antara makhluk ada orang yang lebih buruk atau lebih jahat amalannya daripada dirinya sendiri, maka orang itu bersifat takabur". Lalu Abu Yazid ditanya, "Kapan seseorang itu dapat disebut sebagai bertawadhuk(rendah hati)?" Abu Yazid menjawab, "Ketika ia tidak tahu bagaimana kedudukan serta keadaan dirinya sendiri". Lawan sifat takbur itu ialah tawadhuk (tawadhdhuk atau dhi'ah), yaitu lintasan rasa rendah dan hina diri, termasuk pernyataan lewat perbuatan dan lisan. Dengan menyuburkan sifat dan sikap merendah hati dan pasrah kepada Allah, seseorang akan dapat mencegah penyakit takabur dan juga ujub.
Tawaduk itu adalah sifat hati yang terpuji (mahmudi). Sifat ini membawa kemuliaan. Orang yang berkenaan akan mendapat kedudukan (derajat) yang tinggi di sisi Allah. Rasulullah S.A.W bersabda, mafhumnya : Allah tidak akan memberi tambahan kepada seorang hamba karena gemar memberi maaf kecuali kemulian, dan tiada seorang pun yang merendahkan diri karena mengharapkan keridhaan Allah kecuali Allah akan memberi tingkat yang tinggi kepadanya (HR. Muslim).
Takabur dan tawaduk masing-masing ada kalanya bersifat umum dan ada kalanya bersifat khusus. Orang yang merasakan tidak memadai dengan kerendahan atau kesederhanaan hidupnya dikatakan terjatuh ke dalam Takabur Umum. Sebaliknya, orang yang merasakan sudah berada dengan keperluan hidup sekadar yang ada, walaupun yang rendah atau sederhana mutunya, dia termasuk dalam tawaduk umum.
Adapun Takabur Khusus bersifat tertutup, tidak mau menerima, malah tidak bersedia untuk menerima kebenaran dari orang lain. Lawannya ialah Tawaduk Khusus yang bersifat terbuka, sentiasa melatih diri untuk menerima kebenaran tanpa mengira ada orang yang membawa kebenran itu hina atau mulia.
Untuk mempertahankan tawaduk umum, kita hendaklah sentiasa menginggati pengalaman pahit yang pernah menimpa diri kita sejak mula dilahirkan dan senantiasa menginsafi diri kita sebagai hamba Allah, sekurang-kurangnya sebagaimana yang dikatakan oleh ulama : "Asal kamu dari setitik mani (nuthfah) yang anyir. Akhir kamu menjadi bangkai (mayat) yang busuk. Dan, di antara keduanya, sepanjang hayat, kamu menanggung kekotoran (najis) di dalam perut kamu".
Untuk mempertahan tawaduk khusus pula kita hendaklah sentiasa mengingati siksaan Allah Taala sebagai pembalasan, sekiranya kita menyeleweng daripada kebenaran dan berpanjangan di dalam kebatilan. Berbeda dengan sifat-sifat hati lain yang hanya mengotori amal ibadah dan memudaratkan perkara "cabang" saja dalam agama, takabur memudaratkan perkara "pokok", mengotori agama dan akidah. Sekurang-kurangnya takabur mengakibatkan empat mudharat :
1. Terhalang dari mendapat kebenaran dan buta mata hati dalam makrifat terhadap ayat-ayat yang mengandung pengertian tentang hukum dan hikmat Allah. Allah Taala berfirman, mafhumnya: Aku akan memalingkan mereka dari ayat-ayat-Ku orang yang menyombongkan dirinya (takabur) di muka bumi tanpa alasan yang benar. (QS 7:146)
Demikianlah Allah menguncikan hati setiap orang yang takabur lagi sewenang-wenang. (QS 40:35)
2. dimurkai dan dibenci oleh Allah Taala, sebagaimana firman-Nya yang bermaksud : Sesungguhnya Allah tidak suka kepada orang yang membesarkan dirinya (takbur). (QS 16:23)
Diriwayatkan : Nabi Musa a. s telah bertanya kepada Allah, "Hai, Tuhanku. Siapakah di antara makhluk-Mu yang paling Engkau murkai?". Allah Taala berfirman, mafhumnya: Orang takbur hatinya, kasar lidahnya, terkelip-kelip matanya, bakhil tangannya dan jahat perangainya".
3. Mendapat kehinaan dan siksaan di dunia sebelum di akhirat. Bersyair Khatimul-Asham, "Jauhkan dirimu dari mati dalam tiga keadaan, yaitu takabur, loba dan ujub. Sesungguhnya, orang yang takabur itu tidak dikeluarkan oleh Allah Taala dari dunia sehingga dia diperlihatkan dulu penghinaan ke atasnya kepada sekurang-kurangnya keluarganya sendiri. Orang yang loba tidak dikeluarkan dari dunia melainkan setelah merasa sangat memerlukan secuil roti dan seteguk air karena terlalu lapar dan dahaga tetapi tak lalu ditelannya. Dan, orang yang ujub juga tidak dikeluarkan dari dunia melainkan setelah diperlihatkan dirinya bergelimang dengan air kencing dan tahinya sendiri".
Gambaran penghinaan di akhirat pula terdapat dalam hadist dari Abu Hurairah r. a. Katanya, Rasulullah bersabda : "Orang-orang yang sombong, keras kepala dan takabur, akan dikumpulkan pada hari kiamat seperti kumpulan semut, dipijak-pijak oleh manusia karena hinanya mereka di sisi Allah Ta'ala".
4. Disiksa di akhirat dan dimasukkan ke dalam neraka, sebagaimana firman Allah Taala (tersebut dalam Hadis Qudsi), mafhumnya: Kebesaran itu selindang-Ku dan 'adzmat (keagungan) itu kainku. Sesiapa merebut salah satu daripada yang dua itu, Aku masukkan dia ke neraka Jahannam.
Rasulullah bersabda : "Tiada akan masuk syurga orang yang ada di dalam hatinya seberat biji S.A.Wi daripada sifat takabur" (HR. Muslim). Mengikut hadist yang lain, Rasulullah bersabda : "Wahai Abu Dzar, barangsiapa mati dalam keadaan hatinya ada sebesar debu sahaja dari sifat takabur, dia tidak akan tercium bau syurga kecuali bila bertaubat sebelum maut menjemputnya".
Biasanya faktor yang menimbulkan rasa takbur di hati seseorang itu ialah sesuatu kelebihan atau keistimewaan yang dimilikinya. Banyak faktornya. diantaranya sebagaimana yang dilantunkan oleh Imam al-Ghazali, yiaitu : Ilmu, ibadah / amal, keturunan, kejelitaan atau ketampanan rupa paras, kekayaan harta benda, kekuasaan / kekuatan dan banyak pengikut / kaum keluarga.
Demikianlah, memang sudah jelas sekali, sebagaimana yang telah berlaku. Iblis menjadi takabur karena faktor keturunannya (asal kejadiannya), Fir'aun karena kekuasaannya dan Qarun karena hartanya. Jadi, sesiapa yang memiliki kelebihan atau keistimewaan dalam hal-hal yang tersebut, hendaklah berhati-hati agar tidak terhanyut di lautan ghaflah atau menjadi lupa daratan sehingga hatinya dihinggapi penyakit takabur. Wallahu a'lam.
1. Rasulullah bersabda, "Dianggap sebagai takabur itu ialah menolak apa yang benar dan mengaggap hina kepada orang lain". (HR. Muslim).
2. Bersabda Rasulullah S.A.W kepada sahabatnya, Abu Dzar : "Takabur itu meninggalkan kebenaran dan engkau mengambil selain kebenaran. Engkau melihat orang lain dengan pandangan bahwa kehormatannya tidak sama dengan kehormatanmu, darahnya tidak sama dengan darahmu".
3. Rasulullah S.A.W bertanya kepada sekumpulan Sahabat, "Tahukah kamu, orang gila yang sebenar-benarnya?" Para Sahabat menjawab, "Tidak tahu, ya Rasulullah". Lalu Rasulullah menjelaskan, "Orang gila ialah orang yang berjalan dengan takabur, memandang rendah kepada orang lain, membusungkan dada, mengharapkan syurga sambil membuat maksiat dan kejahatannya membuat orang tidak aman dan kebaikanya tidak pernah diharapkan. Itulah orang gila yang sebenarnya".
Berdasarkan kisah di dalam al-Qur'an, makhluk yang pertama yang diserang dan menjadi mangsa penyakit takabur ialah Iblis (la'natullah). Walaupun diperintah oleh Allah SWT, Iblis enggan menghormati Adam a. s (manusia dan nabi Allah yang pertama) karena dia menganggap dirinya lebih mulia daripada Adam. Katanya, "Aku lebih baik daripadanya (Adam). Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan daripada tanah" (QS 7:12).
Iblis lalu dilaknat oleh Allah SWT karena sifat takaburnya itu. Sekurang-kurangnya dua akibat kecelakaan yang menimpa Iblis karena ketakaburnya :
1. Ia dimasukkan ke dalam golongan kafir. Allah Taala berfirman : Ia (Iblis) enggan dan menyombong diri (takabbur) dan ia termasuk golongan yang kafir (QS 2:34).
2. Ia dimasukkan ke dalam golongan orang yang terhina dan tidak layak tinggal di syurga. Allah berfirman : Turunlah engkau dari syurga itu karena tidak patut (tidak layak) bagimu menyombongkan diri di dalamnya, maka keluarlah. Sesungguhnya engkau termasuk orang-orang yang hina. (QS 7:13).
Sifat takabur itu dapat dikenali dari tutur kata dan tingkah laku bersumber dari lintasan hati yang mengandung rasa tinggi atau besar diri di samping merendah-kan mertabat orang lain atau menolak kebenaran.
Mengikut Abu Yazid: "Seorang hamba itu selama masih mempunyai sangkaan, bahwa antara makhluk ada orang yang lebih buruk atau lebih jahat amalannya daripada dirinya sendiri, maka orang itu bersifat takabur". Lalu Abu Yazid ditanya, "Kapan seseorang itu dapat disebut sebagai bertawadhuk(rendah hati)?" Abu Yazid menjawab, "Ketika ia tidak tahu bagaimana kedudukan serta keadaan dirinya sendiri". Lawan sifat takbur itu ialah tawadhuk (tawadhdhuk atau dhi'ah), yaitu lintasan rasa rendah dan hina diri, termasuk pernyataan lewat perbuatan dan lisan. Dengan menyuburkan sifat dan sikap merendah hati dan pasrah kepada Allah, seseorang akan dapat mencegah penyakit takabur dan juga ujub.
Tawaduk itu adalah sifat hati yang terpuji (mahmudi). Sifat ini membawa kemuliaan. Orang yang berkenaan akan mendapat kedudukan (derajat) yang tinggi di sisi Allah. Rasulullah S.A.W bersabda, mafhumnya : Allah tidak akan memberi tambahan kepada seorang hamba karena gemar memberi maaf kecuali kemulian, dan tiada seorang pun yang merendahkan diri karena mengharapkan keridhaan Allah kecuali Allah akan memberi tingkat yang tinggi kepadanya (HR. Muslim).
Takabur dan tawaduk masing-masing ada kalanya bersifat umum dan ada kalanya bersifat khusus. Orang yang merasakan tidak memadai dengan kerendahan atau kesederhanaan hidupnya dikatakan terjatuh ke dalam Takabur Umum. Sebaliknya, orang yang merasakan sudah berada dengan keperluan hidup sekadar yang ada, walaupun yang rendah atau sederhana mutunya, dia termasuk dalam tawaduk umum.
Adapun Takabur Khusus bersifat tertutup, tidak mau menerima, malah tidak bersedia untuk menerima kebenaran dari orang lain. Lawannya ialah Tawaduk Khusus yang bersifat terbuka, sentiasa melatih diri untuk menerima kebenaran tanpa mengira ada orang yang membawa kebenran itu hina atau mulia.
Untuk mempertahankan tawaduk umum, kita hendaklah sentiasa menginggati pengalaman pahit yang pernah menimpa diri kita sejak mula dilahirkan dan senantiasa menginsafi diri kita sebagai hamba Allah, sekurang-kurangnya sebagaimana yang dikatakan oleh ulama : "Asal kamu dari setitik mani (nuthfah) yang anyir. Akhir kamu menjadi bangkai (mayat) yang busuk. Dan, di antara keduanya, sepanjang hayat, kamu menanggung kekotoran (najis) di dalam perut kamu".
Untuk mempertahan tawaduk khusus pula kita hendaklah sentiasa mengingati siksaan Allah Taala sebagai pembalasan, sekiranya kita menyeleweng daripada kebenaran dan berpanjangan di dalam kebatilan. Berbeda dengan sifat-sifat hati lain yang hanya mengotori amal ibadah dan memudaratkan perkara "cabang" saja dalam agama, takabur memudaratkan perkara "pokok", mengotori agama dan akidah. Sekurang-kurangnya takabur mengakibatkan empat mudharat :
1. Terhalang dari mendapat kebenaran dan buta mata hati dalam makrifat terhadap ayat-ayat yang mengandung pengertian tentang hukum dan hikmat Allah. Allah Taala berfirman, mafhumnya: Aku akan memalingkan mereka dari ayat-ayat-Ku orang yang menyombongkan dirinya (takabur) di muka bumi tanpa alasan yang benar. (QS 7:146)
Demikianlah Allah menguncikan hati setiap orang yang takabur lagi sewenang-wenang. (QS 40:35)
2. dimurkai dan dibenci oleh Allah Taala, sebagaimana firman-Nya yang bermaksud : Sesungguhnya Allah tidak suka kepada orang yang membesarkan dirinya (takbur). (QS 16:23)
Diriwayatkan : Nabi Musa a. s telah bertanya kepada Allah, "Hai, Tuhanku. Siapakah di antara makhluk-Mu yang paling Engkau murkai?". Allah Taala berfirman, mafhumnya: Orang takbur hatinya, kasar lidahnya, terkelip-kelip matanya, bakhil tangannya dan jahat perangainya".
3. Mendapat kehinaan dan siksaan di dunia sebelum di akhirat. Bersyair Khatimul-Asham, "Jauhkan dirimu dari mati dalam tiga keadaan, yaitu takabur, loba dan ujub. Sesungguhnya, orang yang takabur itu tidak dikeluarkan oleh Allah Taala dari dunia sehingga dia diperlihatkan dulu penghinaan ke atasnya kepada sekurang-kurangnya keluarganya sendiri. Orang yang loba tidak dikeluarkan dari dunia melainkan setelah merasa sangat memerlukan secuil roti dan seteguk air karena terlalu lapar dan dahaga tetapi tak lalu ditelannya. Dan, orang yang ujub juga tidak dikeluarkan dari dunia melainkan setelah diperlihatkan dirinya bergelimang dengan air kencing dan tahinya sendiri".
Gambaran penghinaan di akhirat pula terdapat dalam hadist dari Abu Hurairah r. a. Katanya, Rasulullah bersabda : "Orang-orang yang sombong, keras kepala dan takabur, akan dikumpulkan pada hari kiamat seperti kumpulan semut, dipijak-pijak oleh manusia karena hinanya mereka di sisi Allah Ta'ala".
4. Disiksa di akhirat dan dimasukkan ke dalam neraka, sebagaimana firman Allah Taala (tersebut dalam Hadis Qudsi), mafhumnya: Kebesaran itu selindang-Ku dan 'adzmat (keagungan) itu kainku. Sesiapa merebut salah satu daripada yang dua itu, Aku masukkan dia ke neraka Jahannam.
Rasulullah bersabda : "Tiada akan masuk syurga orang yang ada di dalam hatinya seberat biji S.A.Wi daripada sifat takabur" (HR. Muslim). Mengikut hadist yang lain, Rasulullah bersabda : "Wahai Abu Dzar, barangsiapa mati dalam keadaan hatinya ada sebesar debu sahaja dari sifat takabur, dia tidak akan tercium bau syurga kecuali bila bertaubat sebelum maut menjemputnya".
Biasanya faktor yang menimbulkan rasa takbur di hati seseorang itu ialah sesuatu kelebihan atau keistimewaan yang dimilikinya. Banyak faktornya. diantaranya sebagaimana yang dilantunkan oleh Imam al-Ghazali, yiaitu : Ilmu, ibadah / amal, keturunan, kejelitaan atau ketampanan rupa paras, kekayaan harta benda, kekuasaan / kekuatan dan banyak pengikut / kaum keluarga.
Demikianlah, memang sudah jelas sekali, sebagaimana yang telah berlaku. Iblis menjadi takabur karena faktor keturunannya (asal kejadiannya), Fir'aun karena kekuasaannya dan Qarun karena hartanya. Jadi, sesiapa yang memiliki kelebihan atau keistimewaan dalam hal-hal yang tersebut, hendaklah berhati-hati agar tidak terhanyut di lautan ghaflah atau menjadi lupa daratan sehingga hatinya dihinggapi penyakit takabur. Wallahu a'lam.
-- DISKUSI SEPUTAR PACARAN --
Suatu hari seseorang yang suka pacaran berdialog seputar pacaran
Aktivis : Mas jangan pacaran lagi...
Mase : Kenapa? Pacaran kan asyik.... Menyenangkan.
Aktivis : Nih saya kasih baju rombeng..
Mase : Eh, Gak ah nanti badanku gatal-gatal..
Aktivis : Nah seperti itulah pacaran, "Kamu hanya menjadikan dirimu sebagai barang rombeng/barang bekas...udah gak baru lagi, udah gak sehat..
Mase : Tapi kan saya rencana mau langgeng sama dia sampe nikah..
Aktivis : *sambil mengambil sepotong kue lalu di ludahinya lalu dimakannya
Mase : Eh, Jorok banget kamu, ustadz kok jorok..
Aktivis : Tapi kan buat saya makan sendiri.
Mase : Ya tetep joroklah, dasar jorok.
Aktivis : Seperti itulah kamu, meskipun kamu hendak menikahi pacarmu, tapi kamu sudah berbuat hina terlebih dahulu dengan mengotorinya, meludahinya!
Mase : Tapi kan tujuan saya baik supaya bisa nikah???
Aktivis : Ayo ikut saya ke perpustakaan, Saya mau bayar SPP
Mase : Jadi ustadz kok bego sih, Mana ada orang bayar spp lewat perpustakaan, Harusnya ke bank
Aktivis : Tapi kan tujuan saya baik, mau bayar SPP
Mase : Iya tapi ada jalurnya sendiri-sendiri yang sudah di tetapkan sama kampus, jangan di rubah-rubah
Aktivis : Nah seperti itulah kamu, meskipun tujuan kamu baik, tetap salah, karena jalur yang kamu tempuh salah!
Mase : Terus jalurnya gimana?
Aktivis : Khitbah, datangi ortunya minta baik2, jujur apa adanya, tetapkan tanggal pernikahan dan nikahlah, semoga Allah ridha, dan selama pernikahan belum dilaksanakan maka jangalah berkhalwat, jaga diri baik-baik.
#PesanSesamaJomblo
Manusia sombong adalah Manusia yang tidak pernah belajar dari kesalahan di masa lalu.
Manusia bodoh adalah Manusia yang jatuh kedua kali di lubang yang sama.
Manusia yang merugi adalah Manusia yang menyia-nyiakan kesempatan yang datang dari Rabbnya untuk bertaubat.
Manusia yang kalah adalah yang berputus asa dari Rahmat-Nya.
Manusia yang tak akan pernah bisa bangkit adalah Manusia yang Bodoh dan malas.
Perkataan yang tidak saya sukai dari mulut yang bernama manusia adalah
Apakah Allah mengampunkan saya jika taubatan nasuha?
Apa Allah mau menerima taubat saya?apa saya pantas untuk menjadi lebih baik?
dan bla..bla..bla..."
Ketika engkau ragu akan Tuhanmu maka perkuatlah keyakinanmu kepada-Nya,
Lakukanlah perkara yang diperintahkan-Nya maka engkau akan tahu jawabannya.
Kawan, ingatlah Ampunan Allah sungguh lebih luas daripada amarah-Nya.
https://www.facebook.com/photo.php?fbid=1444850742459626&set=a.1390540287890672.1073741828.100008041423670&type=1&theater
Suatu hari seseorang yang suka pacaran berdialog seputar pacaran
Aktivis : Mas jangan pacaran lagi...
Mase : Kenapa? Pacaran kan asyik.... Menyenangkan.
Aktivis : Nih saya kasih baju rombeng..
Mase : Eh, Gak ah nanti badanku gatal-gatal..
Aktivis : Nah seperti itulah pacaran, "Kamu hanya menjadikan dirimu sebagai barang rombeng/barang bekas...udah gak baru lagi, udah gak sehat..
Mase : Tapi kan saya rencana mau langgeng sama dia sampe nikah..
Aktivis : *sambil mengambil sepotong kue lalu di ludahinya lalu dimakannya
Mase : Eh, Jorok banget kamu, ustadz kok jorok..
Aktivis : Tapi kan buat saya makan sendiri.
Mase : Ya tetep joroklah, dasar jorok.
Aktivis : Seperti itulah kamu, meskipun kamu hendak menikahi pacarmu, tapi kamu sudah berbuat hina terlebih dahulu dengan mengotorinya, meludahinya!
Mase : Tapi kan tujuan saya baik supaya bisa nikah???
Aktivis : Ayo ikut saya ke perpustakaan, Saya mau bayar SPP
Mase : Jadi ustadz kok bego sih, Mana ada orang bayar spp lewat perpustakaan, Harusnya ke bank
Aktivis : Tapi kan tujuan saya baik, mau bayar SPP
Mase : Iya tapi ada jalurnya sendiri-sendiri yang sudah di tetapkan sama kampus, jangan di rubah-rubah
Aktivis : Nah seperti itulah kamu, meskipun tujuan kamu baik, tetap salah, karena jalur yang kamu tempuh salah!
Mase : Terus jalurnya gimana?
Aktivis : Khitbah, datangi ortunya minta baik2, jujur apa adanya, tetapkan tanggal pernikahan dan nikahlah, semoga Allah ridha, dan selama pernikahan belum dilaksanakan maka jangalah berkhalwat, jaga diri baik-baik.
#PesanSesamaJomblo
Manusia sombong adalah Manusia yang tidak pernah belajar dari kesalahan di masa lalu.
Manusia bodoh adalah Manusia yang jatuh kedua kali di lubang yang sama.
Manusia yang merugi adalah Manusia yang menyia-nyiakan kesempatan yang datang dari Rabbnya untuk bertaubat.
Manusia yang kalah adalah yang berputus asa dari Rahmat-Nya.
Manusia yang tak akan pernah bisa bangkit adalah Manusia yang Bodoh dan malas.
Perkataan yang tidak saya sukai dari mulut yang bernama manusia adalah
Apakah Allah mengampunkan saya jika taubatan nasuha?
Apa Allah mau menerima taubat saya?apa saya pantas untuk menjadi lebih baik?
dan bla..bla..bla..."
Ketika engkau ragu akan Tuhanmu maka perkuatlah keyakinanmu kepada-Nya,
Lakukanlah perkara yang diperintahkan-Nya maka engkau akan tahu jawabannya.
Kawan, ingatlah Ampunan Allah sungguh lebih luas daripada amarah-Nya.
https://www.facebook.com/photo.php?fbid=1444850742459626&set=a.1390540287890672.1073741828.100008041423670&type=1&theater
“Dan, tawakallah kepada Allah. Cukuplah Allah sebagai pelindung.” (QS. An-Nisa’:81)
“Dan hanya kepada Allah hendaknya kalian bertawakal, jika kalian benar-benar orang yang beriman.” (QS. Al-Maidah:23)
“Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath-Thalaq:3)
“Kemudian apabila kalian telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya.” (QS. Ali Imran:159)
“Jika Allah menolong kalian, maka tak ada orang yang dapat mengalahkan kalian, dan jika Allah membiarkan kalian (tidak memberikan pertolongan), maka siapakah gerangan yang dapat menolong kalian (selain) dari Allah sesudah itu? Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang Mukmin bertawakal.” (QS. Ali Imran:160)
Allah menjadikan tawakal sebagai salah satu sifat orang-orang Mukmin yang fundamental.
“Katakanlah, ‘Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang teah ditetapkan Allah bagi kami. Dialah Pelindung kami, dan hanyalah kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal.” (QS. At-Taubah 9:51)
“Dan, hanya kepada Allah hendaknya kalian bertawakal, jika kalian benar-benar orang yang beriman.” (QS. Al-Maidah 5:23)
Hakikat Tawakal
Bisyr Al-Hafy berkata, “Andaikata seseorang benar-benar bertawakal kepada-Nya, tentu dia ridha terhadap apa yang dilakukan Allah terhadap dirinya.”
Tawakal adalah berserah diri kepada ketetapan dan takdir Allah dalam setiap keadaan. Jika dia bertawakal dengan sebenar-benarnya tawakal, berarti ridha terhadap apa pun yang dilakukan pelindungnya.
Abu Turab An Bakhsyaby berkata, “Tawakal adalah jika diberi dia bersyukur dan jika ditahan dia bersabar.”
Tawakal tidak benar kecuali disertai pelaksanaan sebab. Jika tidak, maka itu batil dan merupakan tawakal yang rusak.
Orang yang bertawakal merasa tenang karena ada janji Allah, orang yang berserah diri cukup dengan pengetahuan tentang Allah dan orang yang pasrah ridha terhadap hikmah Allah.
”Dan, tida ada suatu binatang melatapun di bumi melainkan Allahlah yang memberi rezkinya.” (QS. Hud:6)
“Dan, berapa banyak binatang yang tidak (dapat) membawa (mengurus) rezkinya sendiri. Allahlah yang memberi rezki kepadanya dan kepada kalian dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Ankabut:60)
Muslim yang bertawakal bukan berarti mengabaikan upaya mencari rezki. Mereka tetap berusaha dan mengeluarkan jerih payahnya. Tetapi mereka merasa tenang, karena yakin tak seorang pun yang akan memakan bagian rezkinya yang telah ditentukan Allah baginya.
Diantara buah tawakal, bahwa tatkala orang yang bertawakal kepada Allah menyodorkan sebagian sebab seperti yang telah diperin-tahkan dan sesuai dengan kesanggupannya, maka apa yang ada di luar kekuatannya akan disempurnakaan oleh kekuasaan Ilahy Yang Mahatinggi.
Tawakal tidak menafikan pertimbangan sebab (Ikhtiar)
Ada seorang laki-laki datang sambil membawa onta betina miliknya, seraya bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah saya harus membiarkan onta ini dan saya bertawakal, ataukah saya harus mengikatnya dan bertawakal?” Beiau menjawab, “Berilah tali kekang dan bertawakallah.”
Rasulullah bersabda “Andaikata kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal, niscaya Dia akan memberi kalian rezki sebagaimana Dia memberikan rezki kepada burung, yang pergi dalam keadaan perut kosong dan kembali lagi dalam keadaan kenyang.”
Sabda beliau ini mengisyaratkan adanya sebab. Allah tidak memberi jaminan kekenyangan kepada burung yang pergi kecuali kepergiannya itu untuk aktif bergerak dan menyebar untuk mencari makan.
Buah tawakal kepada Allah
a. Ketenangan dan Ketentraman
Karena meyakini adanya pertolongan dari Allah untuk menyem-purnakan apa yang ada diluar kekuatannya.
b. Kekuatan
Yaitu kekuatan spiritual dan jiwa yang melebihi kekuatan material, kekuatan senjata maupun kekuatan uang. Kekuatan ini yang menjadi berkah bagi seorang muslim dalam menghadapi berbagai persoalan / masalah / ancaman yang dihadapinya.
“Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah, berkata, ‘Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar’. Tatkala Jalut dan tentaranya telah tampak oleh mereka, mereka pun berdoa, “Ya Rabb kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir’. Mereka (tentara Thalut) mengalahkan tentara Jalut dengan izin Allah.” (QS. Al-Baqarah 2:249-251)
c. Keperkasaan
Orang yang bertawakal adalah orang yang perkasa sekalipun tanpa dukungan. Hati mereka bergantung kepada Allah, tidak membutuh-kan kecuali rahmat-Nya dan tidak takut kecuali adzab-Nya.
d. Ridha
Sebagian ulama berkata, “Selagi aku ridha kepada Allah sebagai pelindung, maka kudapatkan jalan untuk setiap kebaikan.
e. Harapan
Orang yang bertawakal kepada Allah tidak mengenal rasa putus asa di dalam hatinya. Sebab Al-Qur’an sudah mengajarinya bahwa keputusasaan merupakan benih kesesatan dan kufur.
“Ibraham berkata, ‘Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Allah kecuali orang-orang yang sesat.” (QS. Al-Hijr :56)
Seorang muslim senantiasa memiliki harapan untuk memperoleh keberuntungan yang diminta, keselamatan dari sesuatu yang tidak disukai, kemenangan kebenaran atas kebatilan, petunjuk atas kesesatan, keadilan atas kezhaliman dan kesulitan yang lenyap.
Wahai orang yang dizhalimi dan kalah, wahai orang yang dianiaya dan kesulitan, wahai orang yang terluka dan ditimpa bencana, janganlah engkau putus asa, sekalipun banyak rintangan yang menghadang di depanmu. Sesungguhnya Dzat yang mengetahui hal-hal yang gaib, yang mengampuni dosa dan membalik hati, akan menyingkirkan kesusahan darimu, mewujudkan apa yang engkau minta, sebagaimana penyakit yang akhirnya dijauhkan dari dir Ayyub dan kembalinya Yusuf kepada Ya’qub.
Pendorong-pendorong Tawakal
1. Mengetahui Allah dengan Asma’ul Husna-Nya
Barangsiapa mengetahui Allah sebagai Rabb yang pengasih dan penyayang, yang perkasa, bijaksana, mendengar, mengetahui, hidup, berdiri sendiri, kaya, terpuji, melihat, berkuasa, pemberi rezki, kuat, tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dari pengeta-huan-Nya, tidak ada sesuatu pun yang membuat-Nya lemah, bias berbuat apa pun yang Dia inginkan dan kehendaki di masa lalu atau pun yang akan datang, maka dia tentu merasa terdorong untuk bersandar dan bertawakal kepada-Nya.
Siapapun yang lebih mengetahui Allah dan sifat-sifat-Nya, maka tawakalnya lebih benar dan lebih kuat.
2. Percaya kepada Allah
Percaya kepada Allah merupakan buah pengetahuan. Jika seseorang mengetahu Allah dengan sebenar-benarnya, tentu dia akan percaya kepada-Nya secara utuh, jiwanya menjadi tenang dan hatinya menjadi tentram.
Gambarannya adalah bercaya bahwa Dia lebih menyayangi hamba-hamba-Nya, melebihi rasa kasih saying orang tua kepada anaknya dan bahka Dia lebih santun terhadap mereka daripada kesantunan mereka terhadap dirinya sendiri. Dia lebih mengetahui kemaslaha-tan mereka daripada pengetahuan mereka sendiri.
Gambaran lain adalah percaya kepada janji yang disebutkan Allah di dalam Kitab-Nya, bahwa Dia adalah pelindung orang-orang yang beriman, pendukung dan penyelamat mereka. Dia senantiasa bersama mereka untuk memberi pertolongan dan Dia tidak akan mengingkari janji.
Gambaran lain adalah percaya kepada jaminan rezki yang diberikan kepada makhluk-Nya.
“Sesungguhnya Allah, Dialah Maha Pemberi rezki, Yang Mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh.” (QS. Adz-Dzariyat:58)
3. Mengetahui Diri Sendiri dan Kelemahannya
Orang yang jauh dari tawakal adalah yang terperdaya oleh keadaan dirinya sendiri, yang mengagumi ilmunya, yang bangga dengan kekuatannya, yang tertipu dengan kekayaan yang dimilikinya, yang mengira bahwa dia tidak lagi membutuhkan Allah.
“Ketahuilah, sesungguhnya manusia itu benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup.” (QS. Al-Alaq’:6-7)
Tawakal bias digambarkan dari orang yang merasa membutuhkan kepada pelindung dan tidak mungkin baginya untuk tidak membutuhkannya sekalipun hanya sekejap mata.
4. Mengetahui Keutamaan Tawakal
“Dan, barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath-Thalaq:3)
5. Hidup bersama Orang-orang yang Bertawakal


