Ringkasan Chapter I
"THE ART OF PUBLIC SPEAKING"
Dale Carnegie
MERAIH PERCAYA DIRI DI DEPAN AUDIENCE
Pernahkah Anda perhatikan, dari jendela kereta yang Anda tumpangi, kerbau di pinggir yang merumput dengan tenang dan tak sekalipun menengadahkan kepala untuk menengok dan bertanya, "gemuruh suara apa ini?"
Sementara di sisi yang lain, mungkin saja ada penggembala yang disibukkan oleh upaya untuk menenangkan kerbaunya karena panik mendengar suara gemuruh kereta.
Bagaimana cara menyembuhkan ketakutan kerbau yang kedua? Memindahkannya ke pedalaman agar ia bisa merumput di sana dengan tenang, atau membuatnya makin sering mendengar suara gemuruh kereta api?
Pilihlah alternatif kedua. Hadapi audience sesering mungkin, Anda akan berhenti malu dan takut. Segala buku mungkin bisa membantu. Tapi nyemplung adalah satu-satunya yang terbaik. Dokter memberi resep, tapi pasienlah yang harus menelan pil pahitnya.
Belajarlah berbicara dengan berbicara.
Gugup dan takut tak akan pernah benar-benar hilang. Public speaker besarpun masih menyimpannya. Daniel Webster adalah contohnya. Ia bahkan harus angkat kaki dari kursinya, saat pertama kali tampil untuk berbicara. Dia nervous. Glasdstone begitu juga. Beecher begitu juga. Bahkan Ronald Reagen juga terkenal akan kegugupannya saat hendak bicara.
Ada banyak cara untuk menekan rasa gugup dan takut berbicara. Kita bisa mencontoh dunia fisika. Untuk mengeluarkan udara dari gelas, isilah ia dengan air.
TENGGELAMLAH KE DALAM SUBJEK BICARA
Fokus dan konsentrasi adalah proses pengalihan perhatian dari hal-hal yang kurang penting. Sudah terlambat untuk memikirkan bentuk potongan baju Anda. Model kancing Anda atau warna ikat pinggang Anda.
Fokus dan konsentrasilah pada apa yang akan Anda bicarakan. Penuhi kepala Anda, isilah seperti mengisi air ke dalam gelas. Dengan memenuhinya, hal tidak penting akan keluar dari kepala Anda.
Self-conciousness alias terlalu memperhatikan diri, adalah hal sekunder jika Anda ingin berpresentasi. Saat bicara, Anda tidak perlu lagi memperhatikan suara Anda, pakaian Anda, gerak tubuh dan anggota badan Anda. Sebab Anda memang tak perlu melakukannya.
Jika gedung dan ruang tempat Anda akan bicara dilalap api, dan Anda masih di atas panggung, besar kemungkinan Anda akan berteriak-teriak keras memberi komando untuk menyelamatkan diri. Anda melakukannya dengan penuh emosi, dengan mimik wajah yang sesuai keadaan dan dengan suara serta gerak tubuh yang paling alami. Bukankah Anda belum pernah melatihnya?
Tapi begitulah, kita semua sudah alami.
Lebih buruk lagi, Anda salah besar jika Anda berupaya untuk tampil hebat. Anda berasumsi tentang kehebatan itu, dan Anda memenuhi diri sendiri dengan asumsi itu. anda penuh, dan tak ada tempat lagi untuk kehebatan yang sebenarnya, kehebatan menurut kacamata audience. Anda hebat, tapi menurut diri Anda sendiri.
MILIKI SESUATU YANG BISA DIBICARAKAN
Kesalahan banyak pembicara adalah maju ke muka, tapi tidak ada yang akan dibicarakan. Blank. Dan jika kosong, vacuum cleaner akan menyedot apa yang terdekat saja. Jika Anda kosong, maka Anda akan mulai bertanya, "bagaimana rambut Saya?" "Bagaimana bedak Saya?" "Bagaimana kumis Saya?" Anda akan sangat sibuk, tapi untuk diri sendiri. Padahal, Anda berdiri di sana untuk orang lain, orang-orang di depan Anda.
Jadi, Anda harus melakukan persiapan, dan mengetahui sesuatu sebelum mulai bicara. Miliki sesuatu yang bisa menginspirasi, maka tidak ada yang perlu Anda takutkan.
PERSIAPKAN KESUKSESAN ANDA, KEMUDIAN: HARAPKAN SUKSES ITU
Terlalu percaya diri itu buruk. Kelinci yang kecentilan akan mengundang petaka. Rendah hati tidak akan mendiskon kemuliaan Anda. If you believe you will fail, there is no hope for you. You will. Kapasitas Anda bisa tak terbatas (secara manusiawi). Seekor elang menantang matahari tanpa berkedip. Jadilah elang yang menantang. Tetaplah rendah hati.
KUASAI AUDIENCE
Di dalam public speaking ada listrik. ada kekuatan positif dan ada kekuatan negatif. Anda atau audience Anda, salah satunya akan memegang kekuatan yang positif itu. Jika Anda berasumsi memegang kekuatan positif, itulah yang akan Anda dapat.
Jadilah berani. Itu akan membuat Anda santai dan PD.
Refleksikan bahwa audience tidak akan melukai Anda. Beecher (walikota Liverpool) menghadapi penggemar klub sepakbola Liverpool yang ganas, dengan berbicara dari balik jaring kawat sebagai pengaman. Ia meminta mereka melemparinya dengan buah busuk. Ia menghadapinya, dan ia menang atas mereka.
Dalam menghadapi audience, berhentilah sejenak dan tataplah mereka -- 100 melawan 1 perbandingannya, bahwa mereka mengingnkan Anda sukses.
Jangan ragu untuk memulai.
Jangan meminta maaf tentang kesiapan Anda.
Ambil nafas dalam.
Rileks.
Mulailah bicara seperti Anda berbicara kepada sekelompok teman.
Ingatlah bagaimana kita di kolam renang. Jika hanya Anda pegang airnya, memang dingin. Tapi jika Anda nyemplung, dinginnya biasa saja.
Buang rasa takut dan gugup. Pada audience Anda ada kemenangan, itu hak Anda.
SAYA TIDAK BERSIMPATI PADA ANDA
Bukankah, semua hal di atas terdengar tidak simpatik?
Saudaraku, apa yang Anda butuhkan bukan simpati. Yang Anda butuhkan adalah dorongan. Sukses dan tidak sukses lebih ditentukan oleh sikap mental dan bukan oleh kapasitas mental.
Sebab, kapasitas Anda memang besar.
NB:
Saya,
kerbau yang mana?
Ron Kurtus
School For Champions
Menjadi pembicara yang juara tidak berarti bahwa Andalah yang terbaik dalam bidang ini. Melainkan, bahwa Anda mengikuti filosofi untuk menghargai apa yang Anda miliki, hidup sebagai juara, dan menikmati "petualangan" hidup dengan membantu orang lain menikmati apa yang mereka punya.
Pertanyaan:
- Apa yang harus dihargai?
- Bagaiman hidup sebagai juara?
- Mengapa menolong orang lain?
PENGHARGAAN
Hargai dan berterimakasihlah untuk segala sesuatu yang Anda miliki. Hargai apa saja yang Anda miliki sebagai orang yang berbicara atau orang yang punya karir dan berbicara. Jangan jalani semua itu dengan sekedarnya. Pekerjaan yang paling buruk sekalipun tetaplah lebih baik dari pada menjadi pengangguran.
Jika anda baru saja di-PHK hargai teman dan keluarga Anda. Bersikaplah penuh terimakasih karena Anda memiliki keahlian dan kemampuan. Sikap ini teramat penting untuk bisa menggapai titik yang lebih tinggi selanjutnya.
HIDUP SEBAGAI JUARA
Hidup sebagai juara artinya menjalani hidup dengan sehat lahir dan batin, berpengetahuan dan berilmu, mengupayakan kesempurnaan, berpegang pada nilai-nilai dan terhormat serta mulia.
KESEHATAN
Anda tidak akan bisa berbicara dengan efektif jika anda tidak sehat. Jagalah kesehatan fisik dan emosional Anda, sehingga Anda tetap bisa melakukan apa yang ingin dan harus lakukan. Jika Anda sehat lahir dan batin, secara otomatis Anda akan merasa baik.
PENGETAHUAN, ILMU dan KEAHLIAN
Seorang pembicara perlu untuk secara kontinyu memperbaiki pengetahuan dan ilmunya dalam teknik dan wawasan berbicara. Jika Anda berilmu, berpengetahuan dan ahli dalam bidang Anda, percaya diri Anda akan tumbuh dan berkembang.
PATOKAN KESEMPURNAAN
Lakukan segala sesuatu dengan yang terbaik yang Anda punya dan yang Anda bisa untuk mencpai sasaran Anda. Persistensi dan kesadaran adalah penting. Jika Anda menyelesaikan segala sesuatu dengan sempurna, Anda pasti akan percaya diri.
Ada modifikasi rumus Einstein yang berbunyi begini:
E = mC2
Di mana E adalah Excellency, m adalah Manusia dan C adalah Character. Karakterlah yang lebih menentukan kesempurnaan.
TATA NILAI
Anda harus punya tata nilai yang Anda yakini agar Anda juga bisa memberi nilai kepada audience Anda. Pembicaraan Anda sudah seharusnya merupakan sesuatu yang mereka inginkan dan butuhkan. Jika pembicaraan Anda bernilai, Anda akan dipertimbangkan sebagai pembicara yang bernilai.
KARAKTER
Anda harus memelihara posisi yang dihormati, terhormat, jujur dan mulia dalam berinteraksi, menangani dan memperlakukan orang lain. Dengan cara ini, Anda bisa sedikit menegakkan kepala dan dihargai karena integritas Anda.
MENIKMATI ALIAS BERSYUKUR
Hidup adalah perjalanan. Profesi yang Anda pilih juga merupakan perjalanan, di mana Anda berharap imbalan dan menikmati perjalanan itu. Bekerja keras memang perlu, tapi Anda tentunya tidak ingin berperlaku yang mengakibatkan Anda terjerumus kepada kenistaan. Nikmati "petualangan" Anda.
MEMBERI
Sebagian dari menikmati dan bersyukur adalah memberi dan menolong orang lain untuk menikmati "petualangan" mereka. Bukalah selalu mata, telinga dan tetnu saja hati untuk menemukan tempat-tempat di mana Anda bisa menolong orang lain. Bantulah rekan kerja, tolonglah tetangga, bimbinglah yang lebih muda. Memberi dan menolong akan meningkatkan kenikmatan Anda sebagai juara di dalam hidup.
Teknologi belakangan semakin canggih. bagaimana tidak? sekarang teknologi sudah bisa menjelaskan kebingungan kita tentang misteri yang selama ini belum terpecahkan: gimana caranya doraemon megang gelas?
video berikut ini menjelaskan bagaimana sebuah tangan bulat itu bisa menggenggam dan mengangkat sebuah benda. SCIENCE, BRO!
Seperti yang telah dilansir oleh ricedigital, berikut penjelasan atas misteri dibalik tangan doraemon:
Jika Anda mengambil zat bubuk seperti kopi dan memasukkannya ke dalam sebuah kantung yang longgar, Anda akan memiliki sebuah kantung bubuk yang bisa berubah-ubah bentuk. Bentuk kantung mudah dapat diubah dengan dipencet-pencet atau dipegang-pegang.
Tapi jika Anda kemudian menghisap semua udara di dalam kantong itu, partikel-partikel di dalamnya akan jadi sangat erat dan rapat sehingga tidak akan mampu bergerak. Akibatnya si kantong akan jadi lebih kuat dan tidak mudah berubah bentuk. Menggunakan konsep ini, Anda dapat menempelkan si kantung ini ke sebuah benda sampai terbentuk cetakannya, kemudian memperkuat si kantung jadi si objek bisa digenggam!
Nah udah ngerti kan gimana doraemon bisa megang gelas?
Dulu, waktu kita semua belum tahu gimana caranya, bapak Doraemon sedunia (Fujiko F. Fujio) sudah tahu caranya!
http://ngonoo.com/2014/08/terungkap-cara-doraemon-memegang-sesuatu/
Hari ini melihat video kiriman dari teman tentang ekor lebah yang selepas minum arak kemudian dikeroyok oleh temannya sendiri. Mereka tidak rela kalau madunya ternodai oleh arak. Hewan saja tidak suka dengan yang namanya arak atau minuman keras karena memang diharamkan. Alloh menciptakan lebah ini dengan berbagai kemanfaatan sehingga insting tentang arak pun ada pada hewan yang satu ini. Bagaimana menurut anda? Ssimak videonya di bawah ini :
Kerokan Dalam Pandangan Medis
Kerokan? Ah kampungan. Bikin iritasi kulit! Begitu kira-kira pendapat sebagian orang soal pengobatan tradisional dengan cara menekan dan menggeserkan benda tumpul di permukaan kulit ini. Maklum, tak hanya bekas goresan yang mengganggu kemulusan kulit, modal pengobatan ini memang jauh dari mentereng, cukup satu koin benggol produk zaman penjajahan dan minyak kelapa.
Selebihnya ketelatenan menekan dan menggeser koin tersebut di punggung, betis, leher. Meringis pun boleh, sendawa pun tak dilarang bahkan harus disyukuri sebagai rahmat atas terbuangnya angin dari tubuh.
Karena caranya gampang tak heran pengobatan alternatif ini telah ratusan tahun kondang di negara-negara Asia. Masyarakat Vietnam menyebut pengobatan ini cao giodi, di Kamboja dijuluki goh kyol dan di China dikenal sebagai gua sua, dengan menggunakan batu jade sebagai alat pengeroknya.
Menurut Didik Tamtomo, dosen FK UNS yang menjadikan kerokan sebagai bahan penelitian gelar doktor di FK Unair, secara ilmiah, praktik pengobatan ini terbukti mampu mengobati gejala masuk angin atau sindroma dingin yang memiliki gejala nyeri otot (mialga).
Pada kerokan, secara ilmu biologi molukuler terjadi suatu reaksi inflamasi atau radang dengan segala respon yang mengikutinya seperti perubahan diameter vaskuler (pembuluh darah), migrasi sel darah putih (leukosit) dan pengeluaran mediator inflamasi seperti IL-1 beta, Clq, C3, Beta endorfin dan PGE2.
Selain mediator inflmasi, pada kerokan juga terjadi rangsangan pada keratinosit dan endotel atau lapisan paling dalam pembuluh darah yang akan bereaksi dengan munculnya propiomelanokortin (POMC). POMC merupakan polipeptida yang kemudian akan dipecah dengan hasil akhir salah satunya adalah Beta endorfin. Dalam penelitian yang dilakukan Didik, pasca kerokan didapatkan peningkatan IL-1 beta, Clq, dan Beta endorfin. Sementara kadar C3 dan PGE2 justru turun. Hasil ini menyebabkan berkurangnya nyeri otot, rasa segar, nyaman dan eforia.
Meski efektif dan murah meriah, golongan masyarakat tertentu dan dokter justru menentang cara pengobatan tradisional ini dengan alasan akan timbul nyeri dan kerusakan permukaan kulit.
Padahal secara secara teknis, kerokan yang dilakukan dengan benar tidak akan menyebabkan rasa sakit. Alat kerokan biasanya menggunakan uang logam, koin, atau alat bantu khusus kerokan.
Alat-alat tersebut wajib tumpul supaya tidak melukai kulit. Lalu dibantu dengan minyak yang fungsinya selain menghangatkan juga untuk melicinkan proses kerokan, sehingga menghindari terjadinya kulit lecet. Timbulnya warna merah yang akibat inflamasi itu dapat dipakai sebagai petunjuk berat ringannya masuk angin. Semakin gelap goresan yang timbul berarti semakin berat masuk angin yang terjadi.
Para ahli akupunktur berpendapat bahwa saat terjadi pemijatan, sebaiknya alat kerok melewati titik akupunktur agar urat syaraf motorik terangsang, sehingga pada akhirnya memperlancar sirkulasi darah. Cara kerokan yang dianjurkan adalah tegak lurus sejajar dengan tulang belakang menyamping, lalu sejajar dengan arah bahu agar melewati titik chi.
Satu hal yang patut diingat dan dilakukan bila Anda sudah kerokan sebaiknya tidak mandi karena pori-pori kulit dalam kondisi terbuka. Lebih baik seka dengan lap basah yang dicelupkan pada air hangat lalu diperas. Tentu saja usai menjalankan pengobatan ini, Anda wajib beristirahat. Gaya hidup sehat pun wajib Anda perhatikan agar tidak mudah terserang masuk angin kembali.
-sumber: Family guide-
https://www.facebook.com/permalink.php?story_fbid=10153161542989746&id=388920459745&substory_index=0
Aktivitas harian kadang menghadirkan rasa bosan sampai ke tingkat jenuh. Badan malas bergerak dan otak jadi malas mikir. Sangat tidak produktif! Yah, hari itu giliran saya mengalami entah untuk yang keberapa kalinya. Walau telah banyak buku teori yang dibaca sebagai penangkal, masih saja gagal.
Bermalas-malasan menjadi satu-satunya pilihan sambil berusaha merangkai khayalan yang indah tentang segala obsesi yang belum tercapai. Silih berganti dengan berandai-andai yang tanpa sadar membawa kepada rasa putus asa, "andai saja…" dan sederet rasa penyesalan yang tak kunjung usai. (Jauh sekali dari ummat dambaan Rasulullah: seorang mukmin yang kuat).
Kuasa Allah mengalihkan khayalan itu jadi sebuah perenungan yang panjang. Suara hati berebutan dalam proses penyadaran.
"Kamu Pengecut, kamu tidak berani hidup! Orang yang berani hidup akan memanfaatkan waktu sebaik-baiknya, karena hidup yang sekarang hanyalah sementara. Dia takkan menyia-nyiakannya, dia ingin hidup bahagia selamanya disamping Rabbul Izzati”
“Bukankah kamu pernah membaca? Rasulullah bersabda “dunia adalah sebaik-baik kendaraan menuju akhirat". Dengan caramu sekarang, jangan harap deh kamu bisa menghasilkan yang terbaik".
"Wake up donk! Atau kamu ingin bergabung bersama mereka yang bunuh diri hingga kamu tidak perlu lagi capek di hari esok atau kamu akan biarkan syarafmu tegang terus jadi tidak berfungsi hingga esok hari tidak usah berpikir lagi?”.
“Allah kuasa memberi peringatan dalam bentuk apapun. Kenapa harus menunggu peringatan itu datang kalau akal sehat masih mampu memperbaiki kesalahan yang terjadi? Menurut berita terbaru, 3 dari 1000 orang di Indonesia sakit jiwa. Kamu ingin menambah panjang daftar itu?”
Na’udzubillaahi min dzalik. Saya sadar... kemalasan telah 'mengecilkan' keberadaan Sang Khalik yang telah mempersembahkan semua yang terbaik untuk hamba-Nya. Awan beraneka rupa, tak pernah sama dari hari ke hari. Dihadirkan-Nya duka agar saya bisa merasakan indahnya bahagia, dihadiahi-Nya rasa gagal agar saya bisa memanjatkan syukur yang tak berhingga ketika berhasil. Sayalah yang menjadikan hidup terasa menjemukan. Astaghfirullahal’adziim. Sesungguhnya Allah tidak pernah zalim kepada hamba-hambaNya. Laa ilaaha illaa anta subhaanaka innii kuntu minazhaalimin.
Ya, segala hal yang bersifat manusiawi selalu bisa jadi alasan hingga kita permisif dalam menyikapi kemalasan dan kejenuhan. Bukan berarti, kita harus memaksakan diri dalam melakukan suatu pekerjaan. Bukan! Masih banyak alternatif lain untuk menjadikan hidup bermakna. Hobi tidak pernah mendatangkan rasa jenuh bukan? Namanya juga hobi –hal-hal yang disukai dan disenangi. Bagi yang hobi memasak, segera bangkit dari tempat tidur, masak makanan terbaik dan suguhkan untuk keluarga tercinta. Bagi yang hobi jalan-jalan, simaklah keagungan ciptaan-Nya dan ajaklah anak yatim, bahagiakan hati mereka. Percayalah, kebahagiaan itu menular! Bagi yang hobi membaca, bacalah sebanyak-banyaknya buku, cari hikmahnya dan ceritakan kepada yang lain. Tanpa disadari, kita sudah berdakwah. Atau langkahkan kaki ke rumah sahabat lama, guru atau orang yang pernah menyakiti kita sekalipun. Yakinlah, silaturahmi bisa merubah suasana hati. Dan jika memang terlalu lelah, berdzikirlah dalam diam... rasakan bahwa Dia begitu dekat... dekaaaat sekali...
Ah, ternyata dunia ini sungguh indah. Kunci menghilangkan rasa jenuh, ternyata sangat sederhana: BERGERAK! Hingga kita akhirnya hanya punya dua pilihan: ingin hidup seratus tahun lagi untuk berkarya atau ingin mati besok karena kita yakin hidup kita selama ini telah mengantongi cukup bekal dalam menyongsong kehidupan hakiki di surga-Nya. BERANI HIDUP!!! Wallaahu 'a'lam.
farah_adibah@yahoo.com
sumber : eramuslim
Kita makhluk yang paling mulia yang telah diciptakan oleh Allah SWT, makhluk yang paling kuat karena ternyata dari sekian ratus ribu sel sperma yang berjuang untuk hidup, kita lah pemenangnya. Pernahkah kita berpikir untuk memberikan berapa nilai dari diri kita? Apakah harga diri kita hanya sebatas dunia yang ingin kita kuasai, emas dan perak yang ingin kita miliki?
Padahal jelas - jelas Rasulullah bersabda, diriwayatkan oleh At-Tirmidzi : “Dunia ini terkutuk, semua yang ada di dalamnya terkutuk, kecuali dzikir kepada Allah, hal-hal yang bersangkutan dzikir, seorang ‘alim dan seorang pelajar.” Dunia dengan emas dan peraknya, kekuasan dan jabatan yang selalu ingin kita kejar, kemewahan dengan rumah megahnya, sama sekali tidak berhak mengalirkan setetes pun air mata kita. Terkadang kita melupakan bahwa dunia ini hanyalah titipan buat kita. Demikian yang dikatakan oleh Labid.
Harta dan keluarga tak lain adalah barang titipan, dan suatu saat barang titipan itu akan dikembalikan.
Tapi sekali lagi, terkadang kita benar-benar melupakannya, selalu setiap bergantinya hari yang kita pikirkan hanyalah bagaimana agar bisa mendapatkan apa yang kita inginkan, bukan apa yang kita perlukan, dan pernahkah kita berpikir, apakah saudara-saudara kita di luar sana membutuhkan bantuan kita hanya untuk sekedar makan hari ini?, pernahkah terbersit sedikit saja dipikiran kita bahwa mereka sebenarnya meminta bantuan kita,hanya saja kita selalu membutakan mata dan menulikan telinga kita untuk mereka?
Lalu, apakah kita juga mengetahui kalau setiap jiwa mukmin itu lebih berharga dari dunia dan seisinya?, Dan pernahkah kita sedikit saja merenung, bahwa semua kekayaan dan kedudukan yang kita miliki bisa menangguhkan bahkan menghambat maut dari kita, dapat menolong kita dari siksa dan azabnya Allah?, Jika kita tahu jawabannya tidak, lalu kenapa kita masih selalu saja menghargai diri kita hanya sebatas harta, emas dan perak?
Demi hidupmu, kekayaan takkan memberi manfaat kepada seorang pun ketika dada sudah tersengal dan sesak (Hatim Ath-Thai)
Pertanyaannya adalah seberapa besarkah nilai kita sebagai seorang manusia yang mulia dan manusia yang terpilih?
Hasan Al-Bashri mengatakan, ”Jangan tentukan harga dirimu kecuali dengan surga. Jiwa orang yang beriman itu mahal, tapi sebagian dari mereka justru menjualnya dengan harga yang murah.”
Sayangnya, hanya sebagian kecil dari kita yang menyadari kalau jiwa kita sebagai makhluk yang beriman sangatlah mahal, atau mungkin kita selalu berpikir kalau harta dan dunia ini lebih berharga dan lebih mahal dari sebuah jiwa yang beriman, sehingga yang sering kita tangisi adalah di saat kita kehilangan uang, kebakaran rumah yang mewah, kehilangan pekerjaan, kita tidak pernah merasa menyesal dan menangis ketika hati kita mulai terasa mati dan jauh dari Allah, tidak pernah ada air mata ketika kita mengingat semua dosa-dosa yang telah kita perbuat, lalu jika sudah seperti ini, apa lagi yang bisa kita harapkan untuk membantu kita di hari akhir nanti?, dan jika ketaatan kepada Rabb sudah tidak ada lagi, maka dapatkah terwujud untuk mendapatkan cinta-Nya dan bertemu dengan-Nya dalam keadaan terbaik?
Subhanallah, ketika menuliskan artikel ini pun, saya berusaha untuk menjawab semua pertanyaan-pertanyaan yang ada, akankah keinginan untuk memiliki sebuah rumah di syurga-Nya dan engkau menjadi tetangga saya ya saudaraku, dapat terwujud? Insyaallah, Amin.
Amda Usnaka
Stt Telkom
usnaka@yahoo.com
sumber : eramuslim






